Serangan Jantung karena Kaget, Mungkinkah?

Ada yang percaya kaget dapat menyebabkan kematian akibat serangan jantung. Meski jarang terjadi, kondisi ini adalah sesuatu yang dapat dijelaskan secara medis.

Kaget, atau juga dikenal dengan syok, merupakan kondisi serius yang disebabkan oleh penurunan aliran darah secara tiba-tiba. Syok dapat terjadi akibat trauma, ketakutan, sengatan panas, kehilangan darah, reaksi alergi, keracunan, luka bakar parah, dan lainnya. Pada awalnya, tubuh merespons situasi yang mengancam jiwa ini dengan menyempitkan pembuluh darah di tangan dan kaki, disebut vasokonstriksi dan membantu menghemat aliran darah ke organ vital.

Namun, tubuh juga melepaskan hormon adrenalin dan ini dapat membalikkan respons awal tubuh. Saat orang merasa takut atau dianggap dalam bahaya, otak memicu lonjakan adrenalin, yang membuat jantung berdetak lebih cepat dan mendorong tubuh langsung ke mode melawan atau melarikan diri.

Melansir Heart.org, ahli jantung dan presiden Advocate Medical Group di Illinois, Vincent Bufalino, mengatakan lonjakan adrenalin yang lebih berbahaya datang dari respons tubuh terhadap situasi yang mengancam jiwa atau stres akibat kehilangan orang yang dicintai.

“Anda bisa mengalami kejadian terkait jantung yang berhubungan dengan lonjakan adrenalin. Tapi, saya pikir akan berlebihan untuk mengatakan Anda bisa mendapatkannya dari orang yang mengenakan kostum serigala di depan pintu,” kata Bufalino.

Tapi, tentu saja kondisi ini akan lebih berisiko pada orang dengan penyakit kardiovaskular sehingga syok perlu dihindari untuk mencegah kematian. Pada dasarnya, ketika tubuh merespons situasi yang mengancam jiwa, menakutkan, atau stres yang tiba-tiba, tubuh akan memompa banyak adrenalin ekstra atau yang disebut katekolamin.

Peningkatan hormon ini menyebabkan perubahan fisiologis pada tubuh. Beberapa efek khas yang mungkin dirasakan termasuk meningkatnya detak jantung, tekanan darah, kadar glukosa darah, dan reaksi umum dari sistem saraf simpatik yang memberi tahu tubuh apakah harus melawan atau berlari.

Kondisi ini juga mempengaruhi sistem kelistrikan jantung, yang dapat menyebabkan aritmia, penyempitan pembuluh darah, atau kejang yang membuat fungsi jantung menurun. Dalam hal ini, otot jantung mungkin berhenti berdetak dan tidak memompa darah secara efisien seperti yang diperlukan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.